Sabtu, 17 Maret 2012

Nada yang Tak Kau Selesaikan


Do re mi fa sol la...kau berhenti sampai di nada ke-6...kau diam tak berpatah kata tanpa ekspresi dan bibirmu kelu...aku tahu siapa dirimu, meski mengenalmu membutuhkan ribuan kesabaran. Aku memahami kerasnya hatimu, karena kau telah terjebak dalam perangkap masa lalumu, kau sembunyikan rasa sakit itu, dan ketika semuanya telah terkumpul, menjadi sebuah perasaan tak menyenangkan yang terakumulasi, sesak tak terbendung, kau akan menyerangku dengan rasa sakitmu dan aku akan tetap bertahan dengan satu alasan.

”Kenapa kau tidak menyelesaikan tangga nada yang kau bunyikan sendiri?” Akupun yang tak kuasa menahan rasa ingin tahu dalam keraguanmu akhirnya melontarkan pertanyaan...

“Apa karena kau tak tahu kemana kau akan meneruskan lagu yang kau gubah sendiri, dengan kata-kata yang kau tulis, dan kemudian kau ingkari sendiri?” Aku ingin menyerang balik hatimu, tapi akupun tak tega...Seseorang berkata, hati yang mulia tidak pernah mengajarimu untuk membenci melainkan menumbuhkan kasih meski ditengah padang rumput kebencian...kemudian memaafkan...selanjutnya melupakan...akhirnya penerimaan tanpa syarat...

Aku tahu, memulai sesuatu dengan sebuah kesalahan yang disengaja bukanlah cara yang tepat untuk memulai. Jika kita ingin bersama, seharusnya kita memulai dari nada dasar do...Do seharusnya membunyikan nada perasaan mendasar yang hanya kita rasakan bersama...bukan kegilaan untuk menyembuhkan luka-luka masa lalu dengan mengisi kekosongan bersama kesenangan tanpa perasaan...Kita menampikkan lara bersama, mengenyahkan persepsi dan merasionalisasikan sebuah kekeliruan...

Ketika kita berpindah pada Re...nada kedua akan membimbingmu dan diriku ke satu baris not yang kita tulis bersama dengan kesepakatan...bukankah sebuah lagu yang ditulis bersama harus disepakati akan berbunyi seperti apa bila gitar yang akan melantunkannya...Jika kita tak bersepakat, maka bagaimana kita akan menyanyikan lagu kita bersama...Sampai di nada kedua kau kemudian merenung lagi...entah kau setuju atau kau berontak, perasaanmu begitu kacau tak terbaca, kebingungan mendefinisikan kesepakatan sebagai kontrak yang memenjarakanmu di sebuah kotak pengekang kebebasan.

Mi...kau semakin bingung...Lagu itu belum selesai kau tulis, tapi kau kembali lagi ke lirik awalnya. Kalimat dimana aku yang mengarangnya...kemudian kau hendak mengiyakan, namun kau masih belum tahu. Kadang aku ingin menganggapmu begitu bodoh dan pengecut, tapi sayangku ingin memelukmu dan disampingmu ketika kau begitu kacau seperti saat kau melanjutkan nada ke Mi. Kau tahu, tak ada restu untuk bersamamu kulawan dengan segala keyakinan karena aku berpegang pada ketidak absolutan di hidup ini. Begitu juga hatimu yang tak akan kekal pada satu keinginan. 

Ayolah kita beranjak ke Fa...ketakutanmu mulai sirna. Hilang karena ketidakpedulianmu pada keserasian, keegoisanmu pada kepastian dan keangkuhanmu pada prinsipmu yang kau agung-agungkan. Tahukah kau aku tak pernah takut menjadi sebuah perisai, dan tak pernah takut untuk merasa tidak bahagia. Aku begitu menikmati setiap rasa sakit di fase-fase dimana aku harus sendirian menyembuhkan batin, dimana aku harus bersembunyi dari penghakiman, dan harus bersandar tanpa siapa-siapa. 

Ketika kau mulai beranjak ke Sol...aku semakin memahami...lagu kita tak akan pernah selesai karena kita tak pernah memulainya. Kita hanya terjebak ditengah kemesraan dan pemberontakan. Aku ingin kau memahami, air mengalir pergi ke lautan, hidup ini akan kita biarkan mengalir, tapi aku ingin lagu ini memiliki iramanya. Lagi-lagi kau hanya tersenyum simpul, kau meremehkan kehidupan dan rodanya, kau mengacuhkan kehidupan dan suratannya, terlebih kau tak menghiraukan kehidupan dan hukumannya. Baiklah...jika kita tetap tak bersepakat sampai di Sol...akan kubiarkan kau beranjak pada nada berikutnya. Tapi silahkan kau bunyikan sendirian...

La.....nada ke-6 kau lantunkan...kaupun berubah pikiran. “Ayo kita menuliskannya bersama-sama. Aku ingin kau disini dan mengarangnya juga. Berikan ide-idemu, curahkan perasaanmu, disampingku, dan jangan menyela jika aku sedang berpendapat?” Kau tiba-tiba merubah sikap, tapi aku tak meyakini hatimu. “Baiklah, ayo kita coba kembali di nada keenam ini, siapa tahu kita akan berhasil menggubahnya bersama.” Ternyata aku selalu kalah dengan perlawanan untuk meninggalkanmu waktu demi waktu, dan lagi-lagi satu kata itulah yang membuatku tetap bertahan. Aku maju mundur ibarat orang tanpa pendirian yang tak meyakini hatinya sendiri. Kutunggu kau sampai kau siap melanjutkan lagu ini ke Si...dan kemudian kau kembali ragu-ragu dan menghukumku dalam diammu.

Sontak kau berhenti...belum kau bunyikan nada selanjutnya. Kau tiba-tiba berubah pikiran, kau luapkan emosimu seperti api yang dinyalakan tanpa pemantik. Berkata-kata hal yang meyakinkan aku bahwa belum kau letakkan ketulusan dalam lagu kita. Bagaimana kita akan menyanyikannya dengan penjiwaan? Kubiarkan diriku mendampingi diammu yang menyakitkan, aku tak belajar membenci, tapi tampaknya harus belajar melupakan. Baiklah kuputuskan... silahkan lanjutkan lagu ini sendiri dalam kesempurnaan yang kau hendaki, dalam keindahan yang kau lukis dalam harapan, dalam kebahagiaan konyol yang kau imajinasikan. Aku berhenti sampai di nada yang tak ingin kau selesaikan... Si...

Kemudian aku akan kembali membunyikan do...

Karena sayangku

Aku memiliki nada yang sempurna

dan malangnya

bukan kau

yang nanti akan menyelesaikan laguku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Polite comment and critic only