Senin, 17 Oktober 2011

Petualang Cinta

“Kenapa kau ingin mengakhiri apa yang belum dimulai?” amarahmu memecah sepi. Pertanyaan retoris, tidak perlu aku berpikir keras untuk menjelaskan alasanku berulang kali secara logis dan realistis. Kau begitu lelah sehingga dirimu dahulu yang setenang daun teratai di danau akhirnya bergejolak juga hanya karena diriku yang ingin melepas semuanya.

Kau ingin melukiskan lelahmu, tanpa kuas atau semburat warna-warni cat minyak diatas kanvas. Namun jelas dirimu adalah lukisan realis paling nyata dari lelahmu. Murammu menggambarkan kesedihan dan kecewa, surammu begitu kelabu hingga aku tak berani berpatah kata. Aku tak ingin kau terluka, karena luka yang terus menerus digores akan menjadi borok, dan akulah yang menggoresnya berkali-kali hingga kau kebal terhadap kepedihan.

Detik-detik itu tetap hening, kau dan aku sama-sama tak bergeming. Emosi membakar jiwa tanpa berani berekspresi. Kau ingin menangis, aku ingin menyeka tangismu dalam pelukanku. Aku ingin memaki, kau berharap mampu menenangkan dalam rengkuhanmu yang mendamaikan. Tidak ada keberanian, tak ada kekuatan, dan tiada daya, yang ada hanya keinginan.

Inisiatif mendorongku untuk menatap matamu, “Aku hanya tidak ingin menyakitimu hari demi hari”, kau mambalas menatap tajam dengan dua mata indahmu yang selalu kukagumi,  “Bagaimana dua orang yang telah bercinta bertahun-tahun lamanya akan berpisah 3 hari sebelum berikrar sehidup semati dalam prosesi yang sakral?”. Jawabku singkat “Kau sebenarnya tahu bahwa ada cinta yang lain”. Aku berhenti sampai titik itu.

Kau ingin menuliskan lelahmu padaku, namun pena ibarat pisau bagimu. Setiap kata yang kau tulis akhirnya menyayat-nyayat dirimu sendiri. Tak perlu kau tuliskan lelahmu karna aku adalah pembaca paling mengerti kisah yang kau ceritakan dari dirimu. Bertahun-tahun bersama membuatku mampu membaca jalan pikiranmu, memperhatikan ritmemu berbicara, dan menghafal setiap intonasimu dalam berkata-kata.

“Hujan deraspun akan selalu reda, ombak yang ganas akhirnya akan tenang, kau pun begitu. Lukamu pasti akan sembuh terobati” aku terus membela diri. Aku tahu komitmen adalah proses transaksi ekonomi antara dirimu dan aku yang dibayar dengan harga mati kesetiaan. Petualang cinta sepertiku akan selalu menawar kesetiaan, entah padamu, padanya atau pada yang lain.

“Duakan saja aku, akupun tidak berkeberatan jika kau memang menghendaki. Aku yakin pada akhirnya kau pun akan memilihku, kau hanya butuh udara segar ketika ruanganmu telah sesak dan pengap, kau menginginkan es batu di dalam sirup ketika telah jenuh meminum teh yang hangat, kau hanya ingin berpetualang dalam asmara dan gairah barumu. Suatu saat kau tahu siapa yang benar-benar diinginkan hatimu, dan ia adalah aku”, kalimatmu begitu tegas dan menusuk.

Aku hanya mampu berbicara pada hati nurani, andai aku tidak harus menjatuhkan vonis pada detik itu juga. Bukankah kehidupan ini adalah tempat tawar menawar yang hasil akhirnya adalah kesepakatan. Matahari pun harus memilih, ia tak bisa menyinari barat dan timur dalam waktu serentak. Begitu pula dengan aku, tidak bisa aku membagi cinta, sekalipun diriku terfragmentasi, cinta akan menuju pada bagian tubuh yang kukehendaki. Kali ini tidak kuserahkannya padamu, itulah kesepakatan paling tidak adil.

Lelahmu menitikkan air mata, tak kuasa lagi kau menahan luka. Kau pun berlutut kemudian bersandar pada tembok yang dingin. Berlutut bukannya memohon, bersandar bukan berharap. Aku tahu lelahmu mencapai titik klimaks, menusuk ubun-ubun. Tak kuat kau bertahan melawannya akhirnya kau berserah. Tak ada lagi konsep tawar menawar, karena kesepakatan itu sudah final. Kau memberiku satu kesempatan, satu langkahku maju artinya tak akan ada pintu terbuka untuk menyambutku kembali, satu langkahku mundur adalah dunia tempat hidupku bertahun-tahun mendatang terkotakkan bersamamu dan komitmen.

“Baiklah” aku memutuskan. Kubawa semua koper-koper berisi pakaian yang telah kukemas semalam. Egoisme menuntun seorang petualang cinta meninggalkan pemujanya. “Tolong kau urus semuanya, batalkan saja, katakanlah bahwa semua ini salahku” dengan entengnya aku berkata demikian. Satu persatu anak tangga kuturuni menjauh darimu. Kau hanya diam dan menangis, lelaki yang digenangi air mata adalah wujud keterpurukan dan putus asa yang mendalam. “Terima kasih, untuk semua cinta dan pengkhianatan, kubiarkan petualang cinta mengeksplorasi petualangan yang baru agar dia bahagia” kau menutup prosesi berakhirnya cinta.

Tanpa berpaling akupun bergegas. Aku kan pergi dan tidak kembali.

Bercinta kembali dan kemudian pergi lagi.

Karena aku petualang cinta, yang tak pernah mengenal kata setia.

Malang, 26 November 2010, 23.00 WIB

Rabu, 12 Oktober 2011

Same Old Brand New Me...

Alhamdulilah 
Tuhan udah memberikan waktu 23 tahun buatku menikmati dunia

Meski sebenarnya saya bukan orang yang menganggap ulang tahun itu penting, tapi sesuatu yang sangat saya sukai dari berulang tahun adalah
Saya tahu bahwa banyak teman-teman yang peduli dan sayang pada saya, lalu mendoakan saya...kadang-kadang malah ada beberapa teman yang lose contact bertahun-tahun tiba-tiba muncul dan mengucapkan selamat meski kadang-kadang hanya dengan kalimat yang singkat..hehehe

HBD...WYATB

Tapi, perhatian dan kepedulian mereka itu segalanya buat saya
kemudian 
saya jadi malu
saya memang bukan orang yang perhatian dengan hal-hal yang berhubungan dengan ultah, sehingga saya jaraaang banget ngucapin selamat ultah ke temen-temen saya kecuali memang saya pas itu lagi kesamber sesuatu terus inget...

Maafin saya yaaaa.......

Jadi, keinginan tahun depan adalah
lebih peduli pada teman-teman 

peduli dan menjaga tali silaturahmi. itu penting mbiiilll.....

Tahun lalu, di tanggal yang sama, saya sedang sibuk dan mumet-mumetnya mempersiapkan kompre. Jadi nggak kepikiran sama sekali tentang ultah, yang ada hanyalah lulus S1. Malahan tahun lalu saya menulis besar-besar di kamar saya :

"Saya harus lulus tanpa revisi dengan nilai A sehingga IPK saya bisa diatas 3,5"

dan

It happened...kecuali bagian tanpa revisi...hehehe...revisian saya segambreng...

Tahun ini harapan saya cuma satu, saya berharap diterima di LCB. Tapi sudah nggak ada yang bisa saya lakukan atau usahakan selain tawakal. Menyerahkan hasilnya pada Allah. Jadi saya belajar melepas...melepas angan-angan saya untuk belajar advanced diploma of hospitality di Le Cordon Bleu Sydney.

LCB adalah salah satu world's best culinary institute...hmm jadi ya sudahlah, terlalu optimis atau terlalu pesimis juga nggak baik buat saya. Lebih baik saya lupakan saja dan menyusun segudang rencana seandainya saya gagal. Saya bukan mempersiapkan untuk kalah, tapi menguatkan hati seandainya saya gagal. 

Tahun lalu, saya berulang tahun ke-22 dan belum memiliki tujuan yang jelas. Masih di ambang batas antara dunia korporasi dan dunia dapur. Masih ingin meraba-raba mana dunia yang saya inginkan. Kemudian tahun ini, saya sudah memutuskan. Saya hanya ingin berada di dunia ini dengan segala resiko dan jatuh bangun yang akan saya hadapi nanti. Saya pernah gagal di bidang ini, tapi saya ingin berhasil suatu hari di dunia dapur ini suatu hari. Saya ingin fokus dan terus berusaha mencapai apa yang benar-benar saya inginkan, apa yang saya cita-citakan.


Meski hanya beberapa hari bekerja di dapur salah satu hotel four star di Jakarta sebagai Pastry Cook (bukan chef..hehe..), tapi memakai pakaian ini adalah dambaan saya sedari dulu, dan saya ingin bekerja dengan pakaian ini seterusnya.
(Fotonya ngiyer gak jelas)

Tahun ini banyak temen-temen dan saudara yang mendoakan saya agar bisa menjadi chef yang sukseees suatu hari....Amiin....Ini doa yang sangaaat berarti buat saya...Meski saya tahu saya nggak bisa sehebat Gordon Ramsay...at least saya bisa sukses dalam definisi saya sendiri, itu sudah merupakan keberhasilan bagi saya. Insya Allah.......



Saya banyak melewatkan hal-hal penting dalam hidup saya sehingga di usia ini saya merasa saya 'garing' prestasi...Hmm...seandainya Allah memberikan saya kesempatan kedua untuk bersekolah di LCB tahun depan, saya berjanji pada diri saya. Dalam 3 tahun tersebut saya akan menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sekarang. Saya ingin berprestasi di bidang yang saya suka, memiliki banyak teman baru yang punya minat di dunia yang sama, punya beberapa pengalaman kerja di resto fine dining atau di pâtisserie, atau ikutan kompetisi culinary. Hmm...khayalan tok ya...hehe...

Hal yang terpenting adalah, akhirya saya menemukan tujuan hidup saya...
dan
saya mulai dengan bismillah, semoga ini adalah jalan yang diridhoi Allah untuk saya...

Love 

Trimbil


Selasa, 11 Oktober 2011

Belajar Melepas #1 Satu Hal Pada Satu Waktu

Saya seorang muslim...mempercayai Tuhan itu Esa. Tapi juga tidak menutup akal dan hati saya untuk ajaran-ajaran atau filsafat luar yang sejalan dengan keyakinan saya... Saya suka membaca, khususnya buku-buku yang banyak melatih batin saya dan buku masak tentunyaaa....hahaha....panceet aee...Salah satu buku aliran 'kebatinan' yang saya suka adalah buku-buku Ajahn Brahm, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1&2.
Ajahn Brahm - penulis buku yang fenomenal

Di agama saya, katanya kalau kita memiliki keinginan, lalu kita mengusahakannya dengan maksimal terus kita berdoa pada Allah, sisanya kita harus memasrahkan apapun hasilnya kepada Tuhan alias tawakal. Bagaimanapun yang punya kuasa hanyalah Tuhan...entah kita minta barang, minta jodoh, minta kebahagiaan...pada akhirnya kita cuma bisa memasrahkan hidup kita padaNya...

Menunggu itu menyesakkan kalau kita berharap banyak pada sesuatu yang kita tunggu. Terus terang saya saat ini sedang menunggu sesuatu...dan saya membutuhkan banyak pengalih perhatian untuk membunuh waktu penantian saya...hmm...tiba-tiba saya kepikiran membaca buku Ajahn Brahm dan belajar untuk

Melepas

Ada beberapa cara untuk melepas yang akan saya tulis secara bertahap....Tapi sebenernya kenapa kita harus melepas??? Melepas adalah salah satu bentuk tawakal yang bertujuan agar batin kita mampu meraih keheningan, kedamaian dan kebahagiaan. Cara pertama untuk melepas menurut Ajahn Brahm yang pertama adalah 

Satu Hal Pada Satu Waktu

Sesuatu akan menjadi berat apabila hal itu menempel pada kita...contohnya adalah saya yang hobby membawa banyak buku ketika kuliah dulu, bukan bermaksud sok pintar cuma sejak SD saya selalu membawa buku pelajaran lengkap sesuai mata pelajaran hari itu (dan memeriksanya berulang kali sebelum berangkat sekolah...hehe...wedi ketinggalan). Beraaaat kan kalo semua buku dibawa, apalagi sampe printilan buku-buku yang gak penting kayak buku curhatan bareng sahabat, binder, buku catetan keuangan...hihihi...

Buku-buku itu diibaratkan penderitaan batin, entah karena urusan keluarga, urusan pekerjaan, sekolah, pertemanan, atau percintaan. Beban itu akan berat jika kita menempel pada kita, kalo kita gotong ngalor ngidul seperti buku-buku kuliah yang saya bawa setiap hari ke kampus, maka itulah yang disebut Ajahn Brahm jangan membawa terlalu banyak hal dalam ransel batin kita.

Ransel batin saya akan saya lepas satu persatu... Ransel batin masa lalu, tidak ada yang bisa kita rubah dari masa lalu, sehingga dipikirkanpun nggak ada gunanya. Kenapa saya harus memikirkan sesuatu yang tidak bisa saya rubah, atau menyesali sesuatu yang sudah terjadi??? Itulah kenapa saya berusaha keluar dari masa lalu...Entah itu masa menyakitkan di masa lalu, maupun masa-masa indah yang sudah terjadi dan tidak bisa saya ulang lagi. Kenangan indah di masa lalu pun menjadi beban batin karena dengan mengenangnya, kita ingin kembali berasa disana dan it seems pointless...

Ransel batin masa depan juga saya lepaskan...Harapan-harapan saya di masa depan akan saya lupakan, bahkan berpositive thinking pun akan saya hilangkan. Saya sudah berusaha untuk masa depan saya, namun saya menghindari berharap terlalu banyak dan berkhayal hal-hal yang menyenangkan di masa depan akan terjadi sesuai keinginan saya. Melepas ransel batin masa depan yang saat ini sedang saya lakukan...sulit sekali tidak berharap waktu demi waktu kepada sang masa depan...tapi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, atau berharap pada sesuatu yang belum pasti. Lepaskan saja...(susah juga lho)

Yang harus saya lakukan adalah mengerjakan satu hal pada satu waktu...artinya apa yang kita kerjakan saat ini, setelah pekerjaan itu selesai, maka akan kita lepaskan. Siapa bilang hanya orang yang kerja yang punya masalah batin dengan pekerjaannya, saya yang kursus masak pun sering mengalami masalah batin ketika sedang belajar di tempat kursus...Entah itu pelajaran dan materi yang menurut saya nggak sesuai dengan kehendak saya, minta diajarin bikin menu ini terus ditolak sama chef atau bikin satu menu dan nggak jadi tapi nggak diulangi lagi karena keterbatasan waktu...Sebel, mangkel dan kecewa kan...? (Wong udah bayar kok gak diajari genah)

Akhirnya, ya sudahlah...setiap selesai melakukan sesuatu saya akan belajar untuk melepasnya. Entah pekerjaan itu berhasil atau gagal, saya akan melepasnya. Sehingga di hati saya tidak menempel beban-beban yang akan menghilangkan kedamaian saya...

Sulit?? Jelas!!! Bisa?? Pasti Bisa...!!

Ajahn Brahm dengan kalimat bijaksananya mengatakan : Buanglah hal-hal dari batin dan hanya taruh satu hal saja: momen kini, apa yang terjadi saat ini juga.

Beberapa cara melepas yang pertama dirangkum oleh Ajahn Brahm sebagai berikut :

Melepas gubrisan mengenai masa lalu dan masa depan
Melepas pikiran yang suka mencari kesalahan (baik menyalahkan diri sendiri) dan mengeluh
Tidak banyak menyimpan pikiran, baik yang negatif, yang positif, maupun yang bodoh dan menaruh satu hal pada satu waktu...


Bersambung Part 2



Senin, 10 Oktober 2011

Begundal Through The Time

Waktu kuliah...
yang dipikiran kita hanyalah

Buku
(Terbukti mereka adalah sekumpulan mahasiswa yang niat kuliah)
Pesta
(Hura-hura adalah acara wajib harian)
dan
Cinta
(Terlibat cinta lingkaran setan atau mencari pasangan outsourcing)

Saat-saat masih berjargon BUKU PESTA dan CINTA
2 tahun kemudian 
tanggal 3 September 2011
Uang, Pesta (Always) dan Cinta


Banyak dari kita udah lulus dan jadi job seeker, ada yang udah kerja, ada yang sekolah PPAk
motto berubah menjadi

UANG
(Karena sekarang kita adalah sekumpulan manusia yang mencari kehidupan dan penghidupan)
PESTA
(Pesta nggak akan pernah hilang dari sanubari para begundal)
dan
CINTA
(Yang belum rabi, yang belum punya pacar, yang bolak balik putus nyambung, masalah cinta bakal berlangsung sampai....)

5 tahun lagi
September 2016

Entah fotonya kayak apa

Motto kita bakal jadi
ANAK
(yang udah punya buntut...hahaha...Qori, Ghea, Tambun akan menjadi leader dalam hal punya anak)
PESTA
(Pesta sampe kewut!!!! hura-hura tak kenal usia)
dan
BOJO
(Sudah berhenti mencari cinta, yang masih mencari harus segera dirubah status dari pacar jadi bojo, yang berkomitmen tidak menikah ya sudah...mengadopsi anak aja)

No matter life will takes us, nothing can break us apart...

5 tahun lagi fotonya tambah rame ya rek...Tambun dan Zuni membawa anak mereka, Qori dan anak bojonya, Ghea dan Ridho + buntutnya, Paimin bingung harus ngajak Isnan, Mamad atau Galih sebagai bojo, Papah dan anak bojo, Sarmo dan sapa yaa??, Lukas, Donny dan anak bojo mereka masing-masing, Yanu dan kebingungan memilih Paimin atau I****, Dika apakah bersama Ewek dan anak-anak mereka, Saka apakah berakhir dengan Epeh, Owi dan anak bojonya, Harisah dan seseorang di deket Singapura, Didi dan Mas Mats maybe, Cinta dan masnya sekarang dan juniornya, Wakjo dan Rini mungkinkah, Rizha dan anak istri, Edwin entah udah mikir untuk kawin pa blum

dan 

Trimbil...hmm aku umur 28 tahun ya pas itu...Kalo belum ada bojoku, pasti aku bawa anakku...Punya anak dulu baru cari Bapaknya...

Hahahaha....

Jadi penasaran dengan mereka semua 5 tahun lagi...Semoga kita panjang umur semuaaa....pesta sampe tuaa...

Minggu, 09 Oktober 2011

PAVLOVA

Pavlova pertama kali terdengar di telinga saya ketika George Calombaris, juri masterchef Australia, meminta oleh-oleh Pavlova buatan Donna Hay (Pastry Chef, Food Stylist) kepada para kontestan masterchef Australia Season 2...

Ternyata...

Pavlova adalah nama dessert yang dibuat dari bahan dasar meringue (putih telur dan gula yang dikocok sampai kaku dan mengembang). Nama ini diambil dari nama balerina Rusia, Anna Pavlova. Anna Pavlova terkenal sebagai balerina klasik terbaik di dunia sepanjang sejarah.

Anna Pavlova
Entahlah...kenapa kok nama Pavlova yang dipakai untuk menamakan dessert yang disebut-sebut sebagai salah satu national dish dari Australia dan New Zealand ini...

Traditional Pavlova

Australia dan NZ terkenal sebagai produsen kiwi dan berry-berry-an... Oleh sebab itu di beberapa resep asli Aussie, saya selalu menemukan Pavlova yang diberi topping buah-buahan tersebut. Bisa dibilang, dengan adanya topping buah-buahan tersebut, membuat kue ini jadi berkesan Austalia Banget!!!

Berikut ini resep Traditional Pavlova bisa dilihat di link ini http://www.taste.com.au/recipes/19217/traditional+pavlova

Christmas Pavlova (Wikipedia)
Di gambar christmas pavlova diatas, meringue yang dioven keliatan retak biasanya kalo si Donna Hay, semua bagian meringue-nya tercover dengan cream...

Pavlova Torte
Kiwi and Passion fruit Pavlova
Hmm...cantik yah...

Memasak bukan hanya menciptakan rasa, tapi menciptakan produk seni yang artistik...

Pav-Love

Trimbil

Rabu, 05 Oktober 2011

Making My Own COME BACK

Roda kehidupan itu berputar... Kadang kita memiliki semangat yang berapi-api, kadang kita jatuh terpuruk dalam kesedihan dan nelongso all the time...Apalagi kalau merantau. Sekalipun dikelilingi oleh orang-orang yang melindungi dan menyayangi kita, dan membuat kita merasa seperti di rumah sendiri. Tapi...kalo nggak bisa teriak

IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUK.....................!!!!!!! 
MBAH TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII.................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

rasanya nggak lega...lha gimana, wong 22 tahun ngempeng mereka berdua. Terus disapih...dikongkon merantau ke kota yang kejam....Dasar manja... gitu pengen sekolah di luar negeri... ndahne nangise tambah banter.........nggak nggak...harus bisa nggak manja...harus bisa... Kucingku Quint aja dulu masih kecil udah merantau mencari majikan karena ditinggal orang tuanya yang nggak bertanggung jawab...

Beberapa peristiwa terakhir masih membuat semangat saya yang dulu selalu full, jadi kendor kayak celana kolor saya warna item yang udah saya pake sejak saya smp. Kendor dan melaaaar... I take my time and think...

Kalo pikiran kemrungsung, hati gak tenang, maka hidup terasa hampa, hidup segan mati tak mau...lebay... Saya akui hidup saya beberapa minggu terakhir tidak menyenangkan. Menghindari satu masalah tidak menyebabkan saya terhindar dari masalah lainnya... Akhirnya saya kehilangan fokus, dan dalam bahasa gaulnya Paimin (sahabat saya) adalah saya menjadi "Galauers"

ditambah

Saya menunggu-nunggu sesuatu yang sangat penting...Makin lebay, makin galau, makin kemrungsung, makin nelongsoan....pokoknya makin elek lah...bimbang, risau, galau...Kampreeet!!!!!

Kalau udah begini, apa yang harus dilakukan adalah...Mari berbicara pada hati nurani, karena katanya hati itu tempat bersemayamnya kasih dan cinta Tuhan...Berbicara pada hati itu sama aja berdiskusi dengan Tuhan...

Saya cuma minta satu hal sama Tuhan...Saya pengen Tuhan membimbing saya untuk punya hati yang kuat... itu aja...

Hati yang kuat akan menguatkan seluruh tubuh saya, sedangkan tubuh yang kuat pun belum tentu bisa menguatkan hati saya ketika ada cobaan...jadi saya minta hati yang kuat...

Terus terang, hidup disini memang nggak gampang. Apalagi dengan segala beban, uang pas-pasan, bolak balik merepotkan keluarga, umur makin bertambah tapi belum settle, temen-temen yang udah punya karir di korporasi besar, harus menjaga diri sendiri sementara disini banyak orang jahat dan dzalim, ditipu orang, di kurang ajari, ditindas...

Ya itulah hidup...saya selalu berkata pada diri saya. Kalau mau damai itu di kuburan...bukan di atas kuburan. Sebenernya, saya nggak suka tinggal di kota ini. Tapi masih banyak hal yang membuat saya penasaran, masih banyak ilmu yang pengen saya dapet, masih banyak alat dapur yang pengen saya beli..hahaha...dan masih banyak cobaan hidup yang pengen saya hadapi.

Satu-satunya cara untuk memutarbalikkan keadaan adalah bangkit... I'm making my own come back... Saya kehilangan diri saya beberapa waktu ini, dan saat ini pula saya berjanji pada diri saya sendiri...Saya akan berdiri lagi...Siapa yang bisa menyemangati diri saya selain saya...Orang lain bisa memberikan dukungan, membagi kasih sayang mereka pada saya. Tapi akhirnya sayalah yang menentukan apa yang harus saya perbuat untuk tidak membiarkan diri saya terpuruk kemudian Crash and Burn...

Salah satu dosen saya memberikan beberapa nasehat saat chatting tadi, saya ingin menuliskan di blog ini untuk saya baca lagi suatu hari :

"Sekedar cerita, waktu lulus S1 saya punya hutang di warung 750 ribuan, dan baru bisa saya bayar ketika udah bekerja. Waktu kuliah s2, saya jadi babu di warung pecel lele pinggir jalan"
(Saya malu sama diri saya sendiri pak...baru jadi babu di kitchen aja udah ribut perkara gaji yang under paid)

"Kalo mau besar, maka besarkan hatimu, kalo mau kuat maka kuatkan hatimu dan untuk membesarkan dan menguatkan hati, bersandarlah pada Tuhanmu"

"Kalo astri sudah pada ketetapan mengejar cita-cita itu, maka fokuslah! abaikan sekitarmu. Thomas Alfa Edison mencapai cita-citanya bukan dengan sekali percobaan, tapi ratusan kali. Setiap gagal ia berkata kepada dirinya sendiri, hari ini aku tahu cara yang tadi bukan untuk menemukan apa yang kuinginkan"
(Iya pak, saya harus mengembalikan semangat saya dan membuang mentalitas nelongsoan saya. Saya sering nggak fokus karena tergiur iming-iming lainnya, jadi bimbang. Jadi saya harus fokus ya pak. Nggak boleh nyerahan dan nggak boleh belok belok ya Pak)

"Wis pokoke be stronger than before, jika perlu belajar karate dulu untuk melindungi diri"

Kalimat pamungkas beliau adalah (kutulis besar-besar yah) :

"JIKA HATIMU KUAT, SAYA YAKIN LIMA TAHUN LAGI KAMU SUDAH TIDAK SEPERTI DIRIMU SEKARANG. YOU WILL BE BIGGER THAN ALL OF YOUR FRIENDS"

lalu saya berpikir sejenak dan malu

Orang lain punya keyakinan ke saya, kenapa saya nggak yakin pada diri sendiri???

Payah

then

I promise

I'm making my own COME BACK....

Bismillah...Tuhan kasi saya kesempatan kedua

Senin, 03 Oktober 2011

Pohon



Pengendali itu hati, dan perasa adalah mata. Ibuku berkata, dimanapun aku membawa jiwa raga, kebaikan hati ditanam di tempat dimana kasih berada, di antara cinta tanpa syarat. Di kotak pertama pohon itu telah kupelihara, dahan-dahan telah kokoh menopang akar kenangan dan sayangku padanya. Setelah ia besar dan mampu berdiri, kutegakan kesetiaan berpindah. Agar masa depan tak dibatasi dinding-dinding yang mengelilingi kotak itu. Kutanam pohon kedua di kotak yang baru, berharap kesucian masih terjaga hingga aku membesarkannya.

Ternyata bertekad melewati batas itu tak semudah cerita yang dikisahkan mereka, menanamnya di tanah kedua jauh berbeda. Jika air dan sinar mentari dahulu sudah memadai, saat ini aku harus menemukan pupuk kebijaksanaan. Bijaksana itu bukan diam ketika harus berbicara atau bersabar ketika ingin murka. Bijaksana itu tahu dimana diriku harus berucap dan menutup rapat.

Hidup terkotakkan dalam pot tanah liat, aku tak ingin alam mengubah jati diri, tak berkehendak kompetisi menghilangkan kebaikan hati. Penuh sesak tanpa kepedulian, renik dan cacing berebut unsur hara, akar tumbuh merambat dengan serabutnya yang bercabang-cabang. Perlahan si pohon belajar, tumbuh menjadi pribadi. Jangan peduli apa dikata mereka, dirimu hanya interpretasi mata. Baiklah, aku akan menjadi pohon, dimana hatiku berkehendak, hanya berharap Tuhan yang menyiramiku dengan bimbinganNya, melindungi daun-daun iman yang di satu masa mungkin tumbuh lebat dan pada musim berikutnya akan rontok ketika dihantam putaran waktu.