Rabu, 29 April 2015

Anxiety Disorder

Dalam hidup saya dan pemahaman saya akan diri sendiri, saya adalah orang yang sangat memikirkan sesuatu dengan sangat ngat ngat dalam...entah itu permasalahan, kata-kata orang lain yang menurut saya menyakitkan hati, atau pengalaman buruk...

Ketika saya kelas 4 SD, saya pernah mengalami anxiety disorder, alias gangguan kecemasan yang berlebihan terhadap sesuatu. Jika anda tau apa penyebabnya, pasti anda akan bilang saya lebay. Penyebab pertama teman-teman cowok saya yang suka menakut-nakuti saya dengan belalang kedua teguran salah seorang guru yang menurut saya mempermalukan diri saya di depan teman-teman hanya gara-gara saya MAIN PENGGARIS waktu sang guru menjelaskan pelajaran PPKn (padahal saya main sambil mendengarkan pelajaran meski agak-agak melamun).

Akibatnya, selama minggu-minggu berikutnya setiap hari Senin saya selalu sakit dan minta ijin pulang ketika akan dimulai pelajaran PPKn. Jantung saya selalu berdegup kencang, sakit perut, lemas, dan nggak ada gairah ketika harus menghadapi pelajaran PPKn. Saya ini orang ekstrovert sanguinis, tapi anehnya saya ini pemikir dan mudah stress. Entahlah kenapa...

Anxiety disorder adalah gangguan mental dimana penderita memiliki rasa cemas yang berlebihan dan seringkali rasa cemas ini akan melelahkan penderitanya.


Saat ini, saat menulis postingan ini, sejatinya saya sedang browsing dan mempelajari tentang anxiety disorder karena saya mengalami gangguan ini lagi. Entah sejak kapan yang jelas sudah mulai tercetus sejak tahun lalu saat saya mengalami baby blue syndrome pasca melahirkan, pikiran dan kecemasan itu mulai berenang pelan di otak saya. Mungkin saya nggak bisa menuliskan penyebabnya, yang jelas saya mengetahui penyebabnya, saya mulai mengalami anxiety disorder yang ditandai dengan kecemasan berlebihan terhadap sesuatu yang belum terjadi.

Kecemasan itu berberntuk imajinasi tapi saya menganggapnya sebagai potensi buruk. Pemikiran buruk itu terjadi secara berulang-ulang setiap hari semakin kuat dan akhirnya saya sering mengalami deg-degan, pusing, nggak selera makan, kehilangan fokus, emosi tidak stabil, kadang ingin marah tapi nggak bisa, kadang ingin nangis tanpa sebab... ya saya sungguh mencemaskan hal itu setiap harinya, saya tidak ingin hal itu terjadi dalam hidup saya.

Keinginan untuk menghindar dari imajinasi masa depan itu sungguh kuat. Kenapa? karena saya cemas, apabila hal itu terjadi, saya yang akan menderita. Saya sudah puas menderita batin sama afex, saya nggak mau menderita batin karena hal itu. Saya cemas hal itu akan berdampak bagi keluarga, pekerjaan, dan rumah tangga saya. Saya cemas kehilangan orang-orang yang saya cintai. Saya cemas akan terluka. Saya cemas nggak bisa mengaktualisasikan diri. Akhirnya saya begitu membenci hal itu, membenci kecemasan yang belum terjadi. Saya nggak ingin hal itu terjadi dalam hidup saya. Sudah manusiawi setiap orang akan melakukan self defense mechanism terhadap kekurangan atau potensi buruk yang bisa menimpa dirinya.

Ini beberapa yang saya rasakan


Dalam link http://www.kolomsehat.com/3-tanda-utama-gangguan-kecemasan-anxiety/, disebutkan ada beberapa gejala anxiety disorder, dan beberapa saya alami beberapa bulan terakhir :

a. Mudah terpengaruh, ada satu kata yang sangat mengganggu saya jika kata itu disebutkan. Seketika kata itu terdengar, saya sudah berpikiran macam-macam, pikiran negatif tentunya.
b. Terus berpikiran buruk tentang hal yang belum terjadi di masa depan dan saya berusaha melakukan apapun saat ini untuk mencegah hal itu terjadi, atau bersiap siaga apabila hal itu terjadi saya sudah tahu akan melakukan apa.
c. Sering membesar-besarkan masalah alias alay...kadang ada satu masalah yang sepele, menjadi pencetus saya berpikiran aneh-aneh dan disambungkan ke kecemasan yang saya alami...padahal nggak nyambung...

Akhirnya, sering saya mengalami pusing, maag kambuh, jantung berdetak kencang, takut, kehilangan percaya diri....sama seperti yang saya alami ketika kelas 4 SD. Sama persis...hanya melibatkan orang dan masalah yang berbeda.

Buruknya, saya jadi mudah menjustifikasi buruk terhadap sesuatu atau seseorang. Pokoknya gangguan ini cukup melelahkan batin saya. Sumpah...saya sering melamun (padahal banyak kerjaan), pelupa, sering kehilangan fokus, dan jadi sangat melankolis...

Beberapa terapi saya coba mulai dari yang sifatnya spiritual sampai pengobatan medis. Bahkan dokter bilang, bersikaplah sedikit cuek lah mbak...(si dokter bilang saya ini kena depresi). Ya saya ini nggak bisa cuek. Dikatain orang begini, sampe puluhan tahun akan saya kenang. Diomongin apa sama si ini yang agak menohok, sampe ribuan tahun saya ingat. Saya nggak dendam sama yang ngatain, cuma kenangannya sungguh melekat dan susah diabaikan. Ya salah saya sendiri. Yang ngatain udah lupa, kok saya ingat-ingat...iya kan...Jangankan orang lain yang ngata-ngatain saya, ingatan tentang Ibuk saya sendiri yang dulu pernah marahin saya selalu saya ingat. Saya ini juga manusia, banyak salahnya juga, pernah ngatain orang juga...tapi kalo dikatain sama orang, berasa orang paling rendah di dunia.

Dibalik saya yang kelihatannya ndablek, ada sisi jelek yang begitu suram bagi saya. Ya, gangguan ini sampe sekarang masih cukup melelahkan buat saya. Semoga pikiran ini cepat hilang, dan saya bisa membuat masa depan yang berbeda dengan imajinasi itu. Saya pasti bisa menyelesaikan kecemasan ini suatu hari, semoga.




Terima kasih untuk Kalxetin yang menemani hariku, dan suamiku yang pengertian dan begitu pemaaf...