Rabu, 29 Februari 2012

The One with My Jazzy Nite



Saya suka musik...love it, enjoy it and can’t live without it...tapi musik bukan jiwa dan hati saya seperti halnya si Jinggo atau nduty...adik saya. Malem ini adalah pengalaman pertama saya menonton konser secara live. Sebenernya saya cuma iseng beli tiket dan ngajak Jinggo nonton dengan tujuan biar dia semakin mendalami dunia musik, dunia pilihannya. Akhirnya, malem ini berangkat juga deh ke Hotel Kartika Graha buat nonton konsernya si Michael Paulo...
Ternyata Paulo bukan Paolo...hahaha....dan dia pemain sax...

Mbatin : Sopo seh sakjakno si Michael Paulo itu...di bannernya sih ada beberapa musisi yang bakal featuring di konser si Michael Paulo...dan saya juga gak tahu siapa mereka, dari mana mereka....hahaha...rumpik deh....gak mudeng apa-apa...

Konser yang seharusnya mulai jam 7 malem...molor kayak kolornya Jinggo sampe jam 8.30...rumpik nista...tapi ya sudahlah udah diniatin nonton ya dilakoni aja...sembari menonton, saya, nduty dan pake minum di coffee shop hotel deket lobby...nduty beli jus nanas, bapak ngopi, saya? FOTO-FOTO...haha...narsis will never end...mumpung saya pake dress, kayak Rachel Berry...hahahaha...cekidot...
Pake nya Trimbil
Trimbil n Nduty
Trimbil n Adeknya Komeng
Lobby...bunganya palsu...
Ini Lea Michelle
Koyok baru kramas
Gaya gue Rachel Berry bangeeet...

Begitu masuk ballroom...nah lo...mulai para penonton itu nyumet rokok, berhubung sponsornya rokok jadi setiap penonton dapet rokok satu pak...(Pake seneng banget, soalnya jatah rokok saya n nduty buat dia). Baru masuk ruangan aura ngantuk saya dateng...haduh kok gak mulai-mulai yooo...#ngersulo tok

Saya sebel...soalnya ada mbak-mbak di depan saya yang giras kayak pitik mau ngendog, ngrokoknya giras banget...(nggak berhenti-berhenti). Selama pertunjukan dia ya giras terus gitu, yang joget-joget, teriak-teriak, ngerokok ngebus-ngebus...huh...rumpik nista...habis itu deng deng...si pianis jazz yang namanya sudah hilang dalam benak saya muncul...

Sumpah hebat main pianonya...saya yang tadi ngantuk jadi kagum luar biasa sama permainan piano jazznya (sampek matanya merem-merem, bibirnya komat-kamit baca mantra, hehehe...dan ngiyer-ngiyer). Yang bikin saya kagum lagi adalah : she is doing what she loves the most and making money from her passion...hahaha...lagi-lagi tentang passion... Passion tok gak cukup, harus ada determination alias tekad daaan......semua orang harus spesial agar dia ‘dilihat’.

Pemain piano banyak...tapi yang master di satu jenis musik kayak si mbak pianis itu mungkin jarang. Itulah yang bikin dia spesial...spesial itu lain dari yang lain, yang bikin orang terlihat bersinar adalah karena dia lain dari yang lain...dan lain dari yang lain adalah mencari tahu kekuatan sejati kita dengan tetap menjadi diri kita sendiri...hohoho...

Mangkannya, orang itu ketika menjatuhkan satu pilihan harus setia sama pilihannya. Si mbak pianis jazz menjatuhkan pilihan pada musik dan sebagai pianis dia setia sama pilihannya, dia tekuni dunia itu, akhirnya, bakat yang terarah itu sama dengan menanam tumbuhan dari biji. Kalo dirawat terus dia akan berbuah dengan baik, tapi kalo setengah-setengah hasilnya nggak akan maksimal...cinta itu harus sepenuh hati, totalitas, cinta itu harus setia.....(menasehati diri sendiri)

Si bintang utamanya baru keluar pukul 9.30 dan langsung main saxophonenya...sumpah apik...yah hampir sama kayak dengerin Kenny G main...mendayu-dayu (bikin saya makin ngantuk). It was beautiful...tapi karena saya sesak napas akibat asap rokok...(sampe saya nulis blog ini dada saya masih sesek karena asep rokok tadi)...akhirnya saya memutuskan untuk pulang...padahal konsernya baru ditonton 1 jam...sebenernya sayang banget sih, soalnya saya baru bisa menikmatinya begitu di Paulo kui muncul...

Tapi ya sudahlah...pengalaman pertama selalu berkesan di hati...dan sedikit banyak si paulo berhasil merubah opini saya kalo ternyata musik jazz itu bagus juga....hehehe....


Salam Narsis
Astri

(Benernya di blog ini saya nggak mau cerita tentang konsernya...cuma mau pamer foto saya...ahahaha....cakeeep kaaan????? )

Selasa, 28 Februari 2012

The One I’ve Learned from Jinggo and Komeng


Ibu saya adalah tempat dimana saya belajar cara mencintai, mencintai tanpa syarat. Belajar mengenai penerimaan. Ibu saya menerima saya, dengan hidung saya yang besar, bibir saya yang empal...haha...kuping saya yang nyelaprang kayak centelan cangkir, rambut saya yang keriting, kaki saya yang bores-bores karena luka dan digigit kutu kucing. Dia tidak peduli semua itu, bagi ibu saya, saya itu cantik meski orang bilang saya jelek. Bukan karena saya adalah anaknya, namun karena cintanya yang tulus pada saya sehingga dia menerima saya apa adanya. 

Ada satu hal penerimaan ibu yang paling saya hargai selama saya hidup, yaitu Ibu saya menerima dan mendukung pilihan-pilihan hidup saya. Termasuk memilih ingin menjadi tukang masak seperti beliau.

I’ve learned about acceptance from my mom...

Belajar menerima itu tidak berbeda dengan mempelajari ilmu di sekolah. Ketika selesai satu bab, maka akan ada test atau ujian yang harus dilalui, dan ujian ilmu penerimaan saya tidak lain adalah dua sweetheart saya...Fidari Fitrianingtyas alias Jinggo dan Indra Wahyu Dewangga aka Komeng. They both have something in common, dan minggu ini adalah ujian saya untuk menerima dan mencintai mereka tanpa syarat.

Mereka memiliki banyak kesamaan, dari hal sifat, kesukaan, dan kebiasaan. Mereka berdua sama-sama rapi, yang satu kelewat rapi (Jinggo). Selera musik yang sama yaitu aliran mem-budeg-kan telinga, sama-sama bisa main gitar dan drum, ego-nya tinggi, keras kepala, sakkarepe dhewe, terus mesoh-mesoh dianggep biasa, suka makan yang enak-enak, nggak pelit, wajahnya sangar tapi sebenernya penyayang, sendu alias seneng ndusel, perasaannya halus tapi gak mau dibilang mellow, santai dan cuek (kadang cueknya nemen), kalo marah smsnya banyak tanda seru, nggak romantis blas dua-duanya. Cuma bedanya, Jinggo sukanya main puk-puk saya dan Komeng nggak boleh puk-puk saya...hahaha....

Mencintai apa adanya tanpa syarat itu susaaaah....butuh proses yang panjang, pemahaman yang mendalam dan sakit hati berkali-kali. Saya melihat ibu saya, dan saya berpikir, sudah berapa kali saya menyakiti perasaanya, dan berapa kali pula Ibuk melupakan rasa sakit hati itu dan kembali menyayangi saya. Penerimaan tanpa syarat kemudian saya definisikan sebagai keinginan untuk mencintai dan menyayangi seseorang yang melebihi keinginan untuk memendam rasa sakit hati karena telah dilukai perasaanya.

Minggu ini adalah ujian penerimaan bagi saya...

Entah kenapa kemarin tiba-tiba saat saya sedang di luar rumah, adik saya meng-sms saya dan bilang dia mau terminal kuliah karena udah nggak kuat mempelajari politik di jurusan HI. Saat itu saya sempat shock dan kecewa berat, perasaan campur aduk antara sedih dan marah. Baru saja paginya saya pergi ke Alfalink untuk mencarikan informasi sekolah musik di Malaysia, saya ingin adik saya menyelesaikan S1 nya dahulu kemudian dalam jangka waktu tersebut, kami sekeluarga akan mengupayakan cita-citanya untuk menjadi musisi. Tapi dia berkehendak lain... Saya sempat sedih sekali saat menyetir sendirian kemarin, mau apa adik saya jika hanya mengantongi ijazah SMA-nya. Kemudian saya berpikir dari sudut pandang dia dan orang lain...

Saya lo pengen jadi professional chef seperti halnya dia ingin jadi musisi. Bedanya saya bisa menyelesaikan S1 saya sedangkan dia sama sekali tidak suka dan tidak mampu mengikuti pelajaran di bangku kuliah. Jika dia sudah tidak suka dan tidak nyaman, kenapa saya harus memaksakan kehendak saya? Siapa saya? Adik saya berhak memilih apa yang menjadi pilihannya. Kemudian, saya berpikir lagi, banyak orang sukses tanpa memakai ijazahnya di dunia kerja. Mungkin saja adik saya salah satunya, mungkin saya dia akan lebih sukses dari saya yang bergelar sarjana jika kemampuan dan tekadnya untuk terus berusaha lebih kuat dari saya...Tuhan Maha Tahu, dan Dia memperbolehkan manusia menulis suratan takdirnya sendiri...

Akhirnya setelah menyupir sambil berpikir dan setengah ngantuk...saya ikhlas menerima apa yang dia putuskan...saya akan selalu disampingnya memberi dukungan moral untuk menjadi seseorang yang dia mau, dan saya juga bertekad suatu hari, saya ingin menyekolahkannya di sekolah musik bertaraf internasional...hidup hanya sekali, jika bisa memperoleh 10 kenapa harus memilih 8?

Kemudian...cobaan hati kedua datang dari Komeng...cuma saya nggak bisa membaginya di tulisan ini...yang jelas, kedua orang yang saya sayang diatas telah mengajarkan saya banyak hal tentang penerimaan dan dedikasi terhadap kasih sayang...tetap mencintai meski berkali-kali tersakiti (karena mereka berdua kalo ngamuk sama-sama medeni...banyak tanda serunya...hehehe)

Saya mencintai Komeng dan Jinggo dengan cara yang sama hanya bentuk cintanya yang beda...membutuhkan kesabaran luar biasa dan pemberian kasih sayang yang luar biasa pula...bagi saya mereka extra ordinary...makhluk yang lain dari yang lain...haha... memahami perasaan mereka ibarat membaca buku Da Vinci Code...harus perlahan-lahan, tekun, sabar...

They are my sweetheart, the different is Jinggo will always be my lovely little sister forever...and Komeng will always be my lovely Komeng, whatever it takes, in the future...

Peluk sayang Jinggo, Peluk kangen Komeng

Senin, 27 Februari 2012

Hari Ketika Kau Lupa


Mari kita mengalbumkan perasaan dalam kenangan...aku susun gambar itu menyerupai cerita bersambung. Itu cerita kita. Aku letakkan satu persatu memori berurutan sesuai peristiwa yang kita lalui...Pertama berkenalan, tidak tahu menahu, kemudian bersahabat, mencari hiburan bersama di pojokan istimewa, makan siang dalam diam, sampai hari dimana kita merelakan raga satu sama lain. 

Kau, logika yang kadang tak masuk di hati dan diriku, hati yang kadang tak masuk di akal. 

Aku mengingat setiap kata-katamu yang membangkitkan jiwa, setiap tamparanmu yang menusuk membela realita, dan setiap ucapan sayangmu yang tanpa makna. Kau yang lucu dan aneh, si bocah kecil yang dibungkus oleh kulit keperkasaan berhias kerupawanan. Yang membangun figur tangguh dalam kemanjaan, yang kuat tetapi rapuh. Kau yang belum menghapus masa lalu semudah kau berucap tentang lupamu padaku, yang menyisakan bekas luka tak terobati karena terkhianati.

Aku mengingatmu sebagai sandaran hati ketika sepi, penghibur ketika lara, pelindung ketika takut, dan pecinta hati yang merana. Sorot matamu itu masih terekam dan menatapku dalam imajinasi di tempat yang jauh dari jangakuanmu, karena aku tak menghapus kenangan seperti kau mengungkap rasa abstrakmu yang mendatangkan ragu. Sentuhanmu dapat teraba dalam aliran udara masa lalu yang kuingat dalam sendiri dan pelukanmu masih lekat menempel di rengkuhan tak berwujud yang menghangatkan sepi.

Aku mengingatmu yang bermain dalam rasa. Membolak balik kata yang menghabisiku hingga lidahku kelu. Kau mengoreksi perasaan dalam ketidakyakinanmu pada hati seseorang di depanmu. Kita berhadapan namun tak mampu berpandangan. Aku tahu matamu tak mampu menutupi rasa yang ingin kau lisankan seperti aku memahami lidahmu yang selalu mengucap kata yang berkebalikan dengan hati. Kita selalu menyingkirkan waktu untuk bercerita tentang rasa, kemudian pergi sendiri-sendiri dengan ketidakpuasan akan pengakuan.

Aku mengingatmu yang terluka dan tak percaya. Kemudian tugas penyembuhan luka itu diserahkanmu padaku, dengan serangkaian ujian yang kau buat agar kau bisa mempercayai. Kau tak percayai hati tanpa bukti, dan kau menghendaki bukti dengan menguji ketangguhanku untuk memegang janji. Hingga sempat aku bertanya, kemanakah kau yang dirimu dulu?

Kemudian aku melanjutkan menyusun kenangan, karena aku selalu mengingat dalam seribu hari lupamu. Aku mengingatmu lelakiku...yang saat ini kenangannya tersusun rapi di album itu. Hingga nanti suatu hari kita bertemu, aku akan membawanya dan mengajakmu kembali ke perasaan terdahulu. Aku akan bercerita dan mengisahkan kembali sebuah cinta, di hari ketika kau lupa...

Kau dan lupamu, aku dan kesetiaan untuk selalu mengingat...

The One with Trimbil’s many Hat as a Caterer


Malem ini adalah jadwal membaca buku dan belajar... kalo dulu buku yang dipegang adalah PSAK atau buku Accounting...sekarang yang dipelajari adalah buku berjudul “The Everything : Guide to Starting and Running a Catering Business” karangan Joyce Weinberg yang didownload gratis dari internet...hahaha...
Nih Bukunya...isinya bagus n simpel buat dibaca...

Buku ini bercerita tentang seluk-beluk dunia catering, mulai perkenalan tentang definisi bisnis katering hingga segala rumpik nista yang berhubungan dengan bisnis katering. Sebagai ‘Anna Gare’ wanna be... (Anna Gare adalah salah satu juri junior masterchef sekaligus pemilik catering besar di Aussie) saya merasa harus banyak mencari ilmu yang berhubungan dengan cita-cita saya sebagai culinarypreneur...

Merintis karir sekaligus usaha di bidang ini saya akui penuh dengan tantangan yang menguras tenaga (dan harga diri)...hahaha... ditambah sebagai orang yang tidak ber’label’ pekerja, orang-orang komplek rumah saya pasti mikir “Mbak astri ini sebenernya kerja apa sih. Kok nggak keliatan ngantor pake baju hem. Tiap keluar pasti pake jeans, t-shirt, kalo nggak gitu celana kolor sama sandal jepit”. Dulu,tetangga-tetangga masih sering nanya “Mbak astri ngelamar kerja dimana?” atau yang lebih ekstrim “Mbak astri udah kerja dimana?”. Dua pertanyaan inilah yang menghabiskan harga diri saya....hahaha....Biarin aja...sekarang mereka udah bosen nanya, soalnya yang ditanya juga bosen njawab...

Sekarang, karena usaha saya bentar lagi mau berdiri secara resmi, saya masih bisa lah bilang (dengan malu-malu) kalo saya berwirausaha...paling nggak harga diri saya nggak begitu habis (dari tadi mbahas harga diri melulu). Biasanya mereka balik nanya : “Usaha apa mbak astri”. Nah kalo udah begini pertanyaannya pasti jawaban saya singkat :
“Oh saya punya catering bu/pak”

Sekaligus mbatin :

 “Pemilik catering plus tukang masak, dishwasher, tukang angkat-angkat, supir alias bagian delivery, bagian purchasing alias belanja ke pasar Blimbing, bagian accounting dan keuangan, manajer operasional..bu/pak” (sial)

Padahal saya selalu berkumandang bahwa saya adalah Pastry Princess...Eh aslinya pembokat di bisnis saya sendiri...(awas ae habis ini saya hire karyawan dan jadi the real princess)..hahaha....
Highest achievement ever as pastry princess...Macaron

Pierre...mousse cake pertamaku

Kemudian di chapter 3 buku ini, Weinberg menyatakan di bukunya (yang sedikit menghibur hati saya) :

Caterers wear many hats, and only one of them resembles the familiar white chef’s hat. There are many responsibilities to be fulfilled, including marketing and sales, planning, and financial management”

“At the beginning you’ll have the lofty title of EXECUTIVE CHEF, but you may also be sous chef, line cook, prep cook, and DISHWASHER, TOO!” (yeey...akhirnya saya bisa bertitel executive chef kayak chef Buyung Radiansyah...bos saya di hotel dulu)

Bagian berikut ini yang membuat saya sadar akan potensi saya :

“The catering business is not for the lazy or risk averse. For those who love sitting behind a desk all day, catering is not the profession for you (Pekerjaan yang selalu membuat saya ngantuk, sitting behind a desk and daydreaming about me marry Callum Hann, my pastry prince). If you love keeping busy, juggling many things at once, working under tight deadlines, orchestrating projects, and bringing enjoyment to others, then maybe catering could provide the right fit for you.”
Callum Hann, my pastry prince

Then I know...catering is something that fit for me...I just have to improve my skill and learn as much as I can to be the next ANNA GARE...
Anna Gare, cantik, ramah, baik hati, pinter masak, pengusaha sukses (Astri di masa depan)

(Tulisan ini saya buat untuk membesarkan hati orang-orang yang senasib dengan saya...sebagai perintis usaha... yang berprofesi sebagai owner plus karyawan plus supir dan plus plus lainnya...)

Penderitaan masa kini adalah cerita lucu di masa depan...ceritakan ke anak cucu anda, they must be proud of you...someday...

Selamat menikmati setiap penderitaan

Salam sayang
Astri